Kemarau Melanda, Petani di Blora Terancam Gagal Panen

BLORA, Lingkarjateng.id – Puluhan ribu hektare tanaman padi di Kabupaten Blora terancam puso atau gagal panen karena pada Masa Tanam 2 (MT2) terjadi kekeringan.

Sunarto salah seorang petani asal Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora mengatakan bahwa tanaman padi miliknya sudah hampir satu bulan tidak mendapat suplai air.

“Sejak mulai tanam sampai sekarang tidak mendapatkan air hujan sama sekali,” ujar Sunarto di Blora pada Senin, 13 Mei 2024.

Ia berharap hujan turun sehingga padi miliknya dapat diselamatkan karena hasil panen yang pertama sebagian harus digunakan biaya untuk masa tanam kedua.

“Kalau sampai gagal panen, dipastikan semua petani di sini akan merugi,” ucapnya.

Sunarto menyampaikan, apabila nanti tanaman padinya tak bisa diselamatkan maka satu-satunya jalan untuk menyambung hidup adalah dengan pindah haluan menanam jagung.

“Namun kami masih menunggu keajaiban. Semoga turun hujan,” harapnya.

Merespons kondisi tersebut, Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora Ngaliman mengatakan bahwa saat ini tanaman padi di Blora mencapai 36.818 hektare (ha). Tetapi jumlah itu merupakan total luasan sawah tadah hujan dan
irigasi.

“Untuk data persawahan irigasi masih kita rekap ulang, yakni ada di Cepu, Kedungtuban, dan Kradenan. Kalau total dari bulan Februari hingga April ada 36.818 ha,” kata Ngaliman di Blora, pada Senin, 13 Mei 2024.

Terkait kekeringan yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Blora, Ngaliman menyatakan bahwa pihaknya akan membagikan 164 pompa air kepada kelompok tani.

“Harapan kami dengan pompa ini, sawah yang dekat dengan sungai bisa dialiri air agar bisa diselamatkan,” imbuhnya.

Selain itu, ia juga berharap hujan turun sehingga produksi padi dapat kembali normal.

“Semoga bisa panen lagi, meskipun hasil tidak seperti pada masa tanam pertama,” tuturnya. (Lingkar Network | Hanafi – Lingkarjateng.id)