Diduga Jadi Tempat Asusila, Bangunan Liar di Jape Blora Mulai Dibongkar

BLORA, Lingkarjateng.id Bangunan liar yang diduga dijadikan tempat asusila turut Dukuh Jape, Desa Sumberejo, Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora mulai dibongkar secara mandiri.

Pembongkaran warung remang-remang itu sebagaimana kesepakatan yang tertuang dalam berita acara dengan saksi pihak pemerintah desa dan Forkompimcam Randublatung.

Jari, warga setempat mengatakan pemilik warung diberikan waktu selama dua pekan untuk membongkar mandiri bangunan yang didirikan tanpa izin.

“Sudah mulai dibongkar sejak sepekan ini, meski belum semuanya tetapi sudah ada kesadaran,” ujarnya, Kamis, 2 Mei 2024.

Menurut Jari jika pemilik warung bandel setelah ada kesepakatan tersebut, maka warga setempat yang akan membongkar.

“Warga sudah geram, kalau tidak dibongkar sendiri, kami yang akan bongkar paksa,” tegasnya.

Jari mengatakan rencananya setelah dibongkar bangunan liar tersebut lahannya akan digunakan untuk lapangan voli pemuda desa agar lebih bermanfaat.

“Lebih baik digunakan hal-hal yang positif daripada dipakai warung remang-remang,” ujarnya.

Sebelumnya ratusan warga Dukuh Jape berusaha membongkar paksa 7 warung remang-remang yang berada di sebelah timur makam Jape. Namun aksi mereka diredam oleh polisi dan Satpol PP pada Selasa, 23 April 2024.

Warga, khususnya emak-emak, khawatir jika suami mereka kepincut wanita penghibur yang mangkal di warung tersebut.

Salah seorang warga berinisial RM mengatakan sudah ada beberapa suami yang datang ke lokasi warung remang-remang.

“Kami duga warung-warung tersebut digunakan untuk praktik prostitusi liar. Kami tidak mau suami kami menjadi korban,” terangnya.

Warga lain, Suntoro menjelaskan tempat itu kerap dijadikan tempat mabuk-mabukan dan praktik pelacuran.

“Ada puluhan botol minum keras yang kita kumpulkan untuk dijadikan bukti,” terangnya.

Suntoro menambahkan warga sudah sempat memperingatkan kepada pemilik warung untuk menghentikan aktifitasnya.

“Aksi kami ini sudah yang kali ketiga. Kami sudah ijin ke polisi dan kecamatan untuk bongkar warung-warung ini. Kami sudah tidak tahan lingkungan kami tercemar nama baiknya,” ucapnya.

Menurutny, saat penggerebekan para penghuni warung, yang diduga pemandu karaoke, tampak kocar-kacir.

“Banyak yang lari dan sempat kita rekam,” imbuhnya.

Terpisah Kasitrantib Kecamatan Randublatung, Sugiyanto, mengatakan pihaknya mencoba memediasi antara warga dan pemilik warung agar terjadi kesepakatan terbaik.

“Kami tidak ingin ada keributan. Semua agar tetap kondusif,” jelasnya. (Lingkar Network | Hanafi – Lingkarjateng.id)